Sejarah Pura

Awal Mula Kedatangan Gusti Agung Arya ke Bali

Menurut Jero Mangku I Nengah Sukra, Pura Luhur Sri Rambut Sedhana ini berawal dari kisah kekalahan warga Buduk, Badung, ketika melawan Raja Mengwi pada tahun 1579. Terdapat mentri kerajaan Majapahit bernama Sri Agung Madu yang mempunyai anak bernama Gusti Agung Arya, beliau suka berburu dan meminta ijin kepada ayahandanya agar diberikan ijin ke Bali untuk berburu. Pada tahun 1579 beliau sudah sampai di Jimbaran dan beliau menginap di Uluwatu selama 11 hari. Sri Agung Madu berkata jika melihat banyak pohon jaka disana beliau disuruh menetap dan kemudian beliau menetap di Buduk.

Kepemimpinan Gusti Agung Arya di Buduk

Beliau sangat disenangi oleh para masyarakat karena kepemimpinannya. Raja Mengwi melihat beliau disenangi oleh para masyarakat, Raja Mengwi merasa resah dan membuat cara untuk mengalahkan beliau. Beliau diundang ke Mengwi untuk menghadiri upacara.

Perang Melawan Raja Mengwi dan Wasiat Terakhir

Sesampainya beliau di Mengwi beliau dijamu dengan sangat baik. Setelah perjamuan beliau ditantang oleh Raja Mengwi untuk berperang, dan terjadilah perang yang lama. Raja Mengwi tidak dapat mengalahkan beliau lalu Raja Mengwi menyerah. Beliau berpikir jika perang terus dilaksanakan maka akan banyak terjadinya pertumpahan darah, maka dari itu beliau menyerah walaupun tidak pernah dikalahkan oleh Raja Mengwi.

Beliau menyerahkan diri dan beliau memberi wasiat untuk dibuatkan pelinggih dan pelinggih itu harus ada penyungsung Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra yang memiliki anggota sebanyak 10 orang. Raja Mengwi menyanggupi lalu beliau dibunuh, karena beliau disenangi oleh masyarakat Desa Buduk.

Perpindahan Masyarakat Buduk ke Jatiluwih

Raja Mengwi datang ke Buduk untuk memperluas wilayah, lalu beberapa masyarakat asli Buduk melarikan diri ke kawasan Jatiluwih, yang awalnya hutan. Para masyarakat melihat tumpukan batu lalu meminta anugrah pada batu tersebut, kemudian tumpukan batu itu diubah menjadi pelinggih bertingkat tiga.

Berdirinya Pura Luhur Sri Rambut Sedhana

Kemudian, datang masyarakat dari Singaraja ke Jatiluwih untuk mencari kehidupan karena dianggap berhasil maka mereka pun juga ikut meminta anugrah pada batu tersebut dan dibuatlah pelinggih-pelinggih lainnya dan menjadi sebuah pura yang bernama Pura Luhur Sri Rambut Sedhana.

Lokasi dan Hari Piodalan Pura

Pura Luhur Sri Rambut Sedhana terletak di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Perayaannya biasanya dilaksanakan setiap Rabu, Buda Wage, Wuku Klawu atau sering disebut dengan Buda Cemeng Klawu.